PENDIDIKAN DALAM MASYARAKAT
MODERN DAN SEDERHANA
Supratman Zakir, M. Pd., M. Kom

A. PENDIDIKAN
Berbicara
mengenai pendidikan tidak terlepas dari sudut pandang serta pendekatan
yang digunakan. Untuk melihat pendidikan secara utuh maka diperlukan
suatu pendekatan system, sehingga pendidikan dilihat secara menyeluruh
dan tidak lagi parsial atau pragmatis.
Pendidikan
merupakan suatu proses, dimana proses tersebut dapat berlangsung dimana
dan kapan saja, tidak hanya dalam lingkungan yang formal seperti di
sekolah atau kampus karena pendidikan tidak hanya sekolah atau kuliah.
Perkembangan seseorang mulai dari kecil, remaja sampai dewasa, di
sekolah, di masyarakat dan di rumah merupakan proses pendidikan yang
menyeluruh.
Menurut
Pannen (2001 : 1) pendidikan digambarkan sebagai suatu kesatuan yang
terdiri dari subsistem-subsistem dan membentuk satu sistem yang utuh.
Sistem pendidikan ini memperoleh input dari masyarakat dan lingkungan
serta akan memberikan output bagi masyarakat dan lingkungan tersebut.
Sedangkan
menurut UU SPN No. 20 Tahun 2003, Pendidikan merupakan usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa
dan Negara.
B. MASYARAKAT MODERN
Kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengakibatkan munculnya perubahan
dalam masyarakat. Semakin maju perkembangan dalam masyarakat maka
semakin banyak pula keperluan yang harus dipenuhi.
Masyarakat
modern dalam lingkungan kebudayan ditandai dengan perkembangan kemajuan
ilmu dan teknologi untuk menghadapi keadaan sekitarnya. Menurut R.
Tilaar (1979 : 17), ada beberapa indicator masyarakat modern dan
disimpulkan oleh penulis (kelompok) sebagai berikut :
1. Saling mempengaruhi antara manusia dan lingkungan dengan tujuan menciptakan perubahan secara timbal balik
2. Usaha untuk mengeksplorasi lingkungan dalam rangka untuk mengatasi tantangan-tantangan yang ditimbulkan dari lingkungan itu sendiri.
3. Dorongan rasa ingin tahu dan ingin mengatasi tantangan-tantangan menyebabkan manusia ingin mengusasi lingkungan
4. Berpikir lebih objektif dan rasional
5. Selalu berusaha untuk memahami semua gejala yang dihadapi dan bagaimana mengorganisasikannya sehingga kehidupannya lebih baik
Dalam
masyarakat modern segala sesuatu diusahakan atau dikerjakan dengan
sungguh-sungguh serta rasional sehingga menyebabkan selalu timbul
pertanyaan dalam masyarakat apakah kegunaan sesuatu bagi usaha menguasai
lingkungan sekitarnya. Akibat dari kehidupan tersebut, maka akan timbul
sikap dalam masyarakat modern, diantaranya :
1. Terlalu
percaya dengan peralatan dan teknik yang berjalan secara mekanis
sebagai satu hasil pemikiran manusia (Ilmu pengetahuan). Dalam hal ini
masyarakat tergolong dalam paham positivisme
2. Berbuat
dan bertindak sesuai dengan rencana yang terperinci sehingga tidak
jarang manusia dikendalikan oleh rencana yang disusunnya.
3. Timbol rasa kehilangan orientasi dan jati diri yang dapat melemahkan kehidupan bathin dan keagamaan.
Tanpa
disadari masyarakat modern semakin tergantung pada alat dan teknologi
yang diciptakan untuk menguasai dunia sekitarnya. Tidak jarang mereka
kehilangan identitas karena sudah dikuasai oleh mekanisme yang mereka
ciptakan sehingga mereka hidup tanpa jiwa dan tanpa kekuasaan.
Dalam
masyarakat modern (komplek – penduduk rapat) kompleksitas dan kerapatan
pendudukak yang tinggi membuat mereka kurang sensitive terhadap
emosional mereka apalagi masalah keagamaan mereka. Mereka cenderung ragu-ragu dalam memilih kepercayaan (Imran Manan : 1989 : 53).
Yang
paling fundamental dalam masyarakat modern adalah kepercayaan akan
kemajuan ilmu pengetahuan. Bagi mereka, masa depan bersifat terbuka.
Mereka percaya bahwa kondisi kemanusiaan, fisik, spiritual dapat
diperbaiki dengan penggunaan sain dan teknologi.
Beberapa
akibat dari kehidupan masyarakat modern adalah mereka terasing secara
kehidupan social yang disebabkan oleh pertumbuhan urbanisme yang
mendorong mobilitas dan melemahkan ikatan-ikatan kekeluargaan.
C. MASYARAKAT SEDERHANA (TRADISIONAL)
Sikap
berpikir subjektif yang menyatukan dirinya dalam memahami gejala yang
timbul merupakan salah satu ciri masyarakat yang hidup dalam lingkungan
yang sederhana. Masyarakat sederhana (tradisional) masih bersikap untuk
berpikir secara massif (pola pikir yang tidak objektif dan rasional)
untuk menganalisis, menilai dan menghubungkan suatu gejala dengan gejala
yang lain.
Manusia
yang hidup tradisional (sederhana) biasanya masih ditandai dengan sikap
berpikir analogis dengan mengadakan generalisasi, penggunaan waktu
secara subjektif serta kurang mengenal waktu secara fisik.
Masyarakat sederhana menurut Robert Redfield dalam Imran Manan (1983 : 52) mengistilahkannya dengan “Folk Sociaty”
yaitu masyarakat yang kecil, homogen, sangat terintegrasi, terasing,
solidaritas kelompok yang tinggi, pembagian kerja yang sederhana,
sebagian anggota masyarakat memiliki pengetahuan dan perhatian yang sama
dan biasa dengan pemikiran, sikap-sikap dan aktivitas dari seluruh
anggota masyarakat.
Komuniktas
masyarakat sederhana menimbang segala-galanya dengan prinsip-prinsip
yang telah baku, mereka cendrung untuk berubah sangat lambat.
E. PENDIDIKAN DALAM MAYARAKAT SEDERHANA DAN MODERN
Sangat
berbeda dengan masyarakat modern, anak-anak masyarakat sederhana turut
serta secara aktif dalam kehidupan masyarakat. Dari umur muda mereka
diharapka mempunyai tanggung jawab sesuai dengan kekuatan dan
pengalamannya.
Masyarakat
sederhana mempunyai pengetahuan yang kurang terspesialisasi dan sedikit
keterampilan yang diajarkan membuat mereka tiada keperluan rasanya
untuk menciptakan institusi yang terpisah bagi pendidikan sepeti
sekolah. Sebagai gantinya anak-anak memperoleh warisan budaya dengan
mengamati dan meniru orang dewasa dalam berbagai kegiatan seperti
upacara, berburu, pertanian dan panen.
Dalam
kebudayaan masyarakat sederhana agen pendidikan yang formal termasuk di
dalamnya kelauarga dan kerabat. Sedangkan sekolah muncul relative
terlambat dalam lingkungan masyarakat sederhana. Adapun beberapa kondisi
menurut Imran Manan (1989 : 57) yang mendorong timbulnya lembaga
pendidikan (sekolah) dalam masyarakat sederhana adalah :
1. Perkembangan agama dan kebutuhan untuk mendidik para calon ulama, pendeta, dll.
2. Pertumbuhan dari dalam (lingkungan masyarakat itu sendiri) atau pengaruh dari luar.
3. Pembagian kerja dalam masyarakat yang menuntut keterampilan dan dan teknik khusus.
4. Konflik
dalam masyarakat yang mengancam nilai-nilai tradisional dan akhirnya
menuntut pendidikan untuk menguatkan penerimaan nilai-nilai warisan
budaya.
Untuk mempelajari sesuatu biasanya anak-anak dalam masyarakat sederhana
akan pergi kepada orang yang mereka anggap ahlinya. Mereka
pempelajrinya tidak hanya hal tersebut secara universal disetujui bahwa
ada hal-hal tertentu yang harus diketahui untuk perkembangan mereka dan
hubungannya dengan kehidupan mereka masa sekarang dan akan dating.
Artinya mereka belajar untuk kelangsungan hidupnya.
Dalam
mempelajari keterampilan anak-anak masyarakat sederhana selalu memiliki
hubungan yang intim dengan visi orang dewasa, sehingga menimbulkan
nilai-nilai kekeluargaan yang erat di antara mereka. Begitu juga dengan
guru-guru, sangat terikat tidak hanya dengan murd-murudnya, yang mungkin
anggota kerabatnya, tetapi juga kepada hasil dari apa yang
diajarkannya. Jika ia gagal mengkomunikasikan keterampilannya secara
efektif, dia akan dapat merasakan langsung akibatnya dengan segera.
Dalam
suatu masyarakat sederhana tidak mempunyai orang yang khusus berfungsi
mengajar. Anggota-anggota masyarakat yang lebih tua mengajar kelaurga
yang muda, walupun untuk tujuan-tujuan tertentu, seperti untuk menjadi
guru mengaji, sebagai penceramah, dll. Sebagai hasilnya mereka yang
mengajar turut serta secara penuh dalam kehidupan masyarakat di
sekitarnya, karena guru-guru dalam masyarakat langsung mempraktekkan apa
yang mereka ajarkan, seperti seorang guru mengaji langsung
mempraktekkan apa yang mereka ajarkan, seorang ahli bertani langsung
mempraktekkan apa yang akan mereka wariskan (ajarkan) kepada pewarisnya,
dll.
Dalam
masyarakat sederhana pembelajaran menjadi lebih mudah sebab objek
pembelajaran selalu dapat diperoleh. Walaupun begitu di sejumlah
masyarakat sederhana ada juga sejumlah pengetahuan khusus yang mesti
diajarkan dengan jelas, karena pengetahuan ini dipercayai menjamin
kelangsungan dan kesuburan masyarakat.
Sedangkan
dalam masyarakat modern pendidikan memisahkan anak dari orang tuanya
untuk memperoleh ketampilan (ilmu pengetahuan dan teknologi) serta akan
membutuhkan waktu yang lebih panjang dari pada masyarakat sederhana.
Dengan didirikannya lemabaga-lembaga formal (sekolah) membuat mereka
lebih banyak terpisah dengan lingkungan masyarakat nmereka sedniri. Hal
ini mengakibatkan anak-anak dalam masyarakat meodern akan terasing
dengan lingkungan masyarakatnya yang pada akhirnya akan mengurangi
kepedulian diantara mereka.
Dalam
masyarakat modern pengetahuan yang akan diajarkan akan membutuhkan
seorang tenaga pengajar yang professional. Hal ini berimplikasi dengan
cara pandang mereka bawah mereka akan dapat memetik keuntungan ataupun
kerugian dari spesialisasi, pengetahuan dan keahlian yang telah mereka
kuasai.
Dengan
adanya tenaga-tenega professional, lembaga formal, serta sarana-dan
parsaran yang memadai akan melahirkan masyarakat modern yang juga akan
memiliki kaulifikasi atau kompetensi sesuai dengan apa yang telah
digariskan dalam perencanaan pembelajaran.
Akan
tetapi kebanyakan tenaga pengejar (guru) dalam masyarakat modern
cenderung mangajarkan sesuatu kepada muridnya jauh dengan realita yang
ada. Sebagai contoh seorang guru bidang ekonomi yang mengajarkan cara
menjadi manager keuangan, tidak akan terlibat langsung menjadi manager
keuangan. Hal ini berimplikasi kepada jauhnya sesuatu apa yang mereka
pelajari dari diri dan lingkungan mereka sendiri.
Anak-anak
dalam masyarakat modern cenderung berada dibawah tekanan yang besar
dari orang tua dan guru-gurunya untuk menguasai pelajaran yang
ditentukan dan dalam waktu yang telah ditentukan. Gejala ini akan
berpotensi menimbulkan gejala kelainan mental jika hasil yang akan
dicapai terlalau berat dibandingkan dengan kemampuan anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar