Selasa, 08 Mei 2012

MOTIVASI DALAM PLS


Motivasi dalam PLS

 A. Motivasi dalam Pendidikan Luar Sekolah
    Motivasi merupakan salah satu unsur penunjang keberhasilan pencapaian tujuan. Dengan motivasi akan timbul kesadaran dan dorongan seseorang untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya. Motivasi merupakan unsur yang paling penting dalam belajar, karena seseorang akan berhasil jika ia memiliki motivasi untuk belajar.
    • Pendapat penting unsur motivasi dalam belajar menurut beberapa ahli :
    1. Kibler(1981: 122-123), menyatakan bahwa proses belajar efisien jika warga belajar yang berkepentingan memiliki keinginan untuk mempelajari sesuatu yang dipikirkannyaStaton (1978: 11 ), menyatakan bahwa motivasi seseorang untuk berbuat tergantung pada pengalamannya, sebab pengalaman akan menentukan minat dan kebutuhan yang dirasakannya.
    2.  McClelland (1987: 34), mengemukakan tiga macam kebutuhan yang menumbuhkan motivasi untuk melaksanakan sesuatu perbuatan, yaitu : (1) kebutuhan untuk memperoleh kekuasaa (need for power); (2) kebutuhan untuk berprestasi (need for achievement) ; 3) kebutuhan untuk bergabung (need for affiliation). Konsep David McClelland yang diistilahkannya dengan “N-Ach” (Need for Achievement) tersebut merupakan naluri jalan kerja keras. 
    3. Atkinson (1964), menyatakan bahwa motif berprestasi seseorang didasarkan atas kecenderungan untuk menghindari kegagalan. Seseorang yang memiliki kecenderungan untuk meraih sukses, berarti ia memiliki motif untuk menghindari kegagalan. 
    4. Molker dan Schoenfeldt (1983: 4) mengemukakan bahwa ada tiga macam motif yang menyebabkan seseorang untuk berbuat atau belajar , yaitu: 1) kebutuhan jasmani, misalnya untuk menahan rasa lapar dan sakit; 2) adanya kesenangan naluriah untuk melakukan sesuatu, serta keingintahuan; 3) adanya bentuk-bentuk perilaku yang dipelajari dan berorientasi pada sasaran. Menurut Abraham H. Maslow (1970: 35-47) kebutuhan dasar manusia dapat disusun dalam sebuah hirarki yang maksudnya bahwa kebutuhan yang lebih tinggi akan dapat terwujud jika kebutuhan sebelumnya yang lebih rendah terpenuhi.

    • Hirarki kebutuhan manusia tersebut, antara lain :
    1. Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan dasar yang meliputi kebutuhan untuk memperoleh penghasilan, sandang, pangan, papan, kesehatan termasuk di dalamnya, istirahat, seks, kesegaran jasmani, udara, air, hiburan, rekreasi dan sebagainya. 
    2. Kebutuhan rasa aman merupakan kebutuhan keseimbangan adanya tempat mengadu dan memperoleh perlindungan, bebas dari perasaan ketakutan, kecemasan dan kekacauan. 
    3. Kebutuhan dicintai merupakan kebutuhan sosial yang mempunyai keinginan untuk berteman secara intim dengan orang lain, kebutuhan ingin diterima sebagai bagian dari kelompok. 
    4. Kebutuhan untuk dihargai merupakan kebutuhan memperoleh pengakuan, status, kedudukan, apresiasi orang lain terhadap dirinya. Selain itu kebutuhan ini menjadikan seseorang untuk berkeinginan memiliki kekuatan, kemampuan, penguasaan dan keberhasilan. 
    5. Kebutuhan perwujudan diri merupakan kebutuhan mengaktualisasikan diri secara benar sesuai dengan nilai-nilai kebenaran, kejujuran, keindahan dan kebaikan.
    Karakteristik individu yang telah mampu mengaktualisasikan dirinya, adalah bahwa la memiliki kemampuan mengamati kenyataan, tanpa dipengaruhi oleh keinginan dan ambisi pribadinya; kemudian ia mampu menghormati dirinya dan orang lain dengan segala kekurangan yang, selanjutnya ia bersikap wajar dan sungguh-sungguh bersumber dari dalam dirinya, memiliki dedikasi dalam tugas sebagai bagian dari misi hidupnya, tidak menggantungkan kepuasannya pada orang lain, menghargai hal-hal yang biasa dengan rasa hormat, memiliki minat sosial, memiliki hubungan antar pribadi yang mendalam, bersedia belajar dari siapa saja, memahami perbedaan makna untuk mencapai tujuan, memiliki rasa humor, memiliki kapasitas yang besar untuk berkreasi dan berhasrat menentang sesuatu yang bersifat pembudayaan, mandiri, mampu membuat keputusan sendiri, meski keputusannya itu bertentangan dengan pendapat umum. Berdasarkan hirarki kebutuhan manusia yang digambarkan oleh Maslow, bukan berarti bahwa kebutuhan dasar akan dicapai dengan memuaskan terlebih dahulu, baru kemudian beralih kepada kebutuhan selanjutnya yang lebih tinggi. Kenyataa di masyarakat menunjukkan bahwa orang cenderung melakuka upaya memenuhi berbagai kebutuhan dalam waktu yang hampir bersamaan, meskipun hasilnya tidak selalu memuaskan, bahkan dari berbagai kebutuhan itu, ada kalanya terdapat suatu kebutuhan itu, ada kalanya terdapat suatu kebutuhan yang dianggap paling penting.
    David McClelland, melihat bahwa motif berprestasi menjadi pendorong bagi seseorang untuk mencapai tujuan hidupnya. Hal ini berarti bahwa motif berprestasi akan menjadii tenaga penggerak pada diri seseorang untuk mengaktualisasikan dirinya, walaupun kebutuhan dasarnya belum terpenuhi dengan sempurna, sebab individu yang memiliki motif berprestasi tinggi, akan selalu melaksanakan tugas dengan baik pula. Mereka akan selalu berupaya, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan agar dapat keterampilandengan hasil memuaskan. Berdasarkan hasil penelitian kebutuhan masyarakat Barat, ditemukan adanya enam kebutuhan, dan ini berlaku pula pada masyarakat di dunia lainnya, yang dikemukakan oleh Krech sebagai berikut: 1) Motif untuk mengejar materi/keuntungan (the Acquistive want); 2) Motif berprestasi (the prestige want); 3) Motif berafiliasi (the affiliation want); 4) Motif menolong orang lain (the altruistic want); 5) Motif berkuasa (the power want); 6) Motif untuk mengetahui (the curiosity want). Dilatarbelakangi oleh mempertahankan kelangsungan hidupnya, manusia terdorong untuk belajar. Sehubungan dengan itu Sudjana (1989: 47) mengemukakan adanya dua implikasi, yaitu 1) Seseorang yang merasakan dan menyata keinginan untuk memiliki dan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan aspirasi dapat dicapai melalui kegiatan belajar; 2) Kebutuhan pendidikan yang dirasakan dan dinyatakan oleh seseorang itu merupakan ekspresi dari kebutuhan diri seseorang (individual needs), kebutuhan lembaga (institusianal needs) atau kebutuhan masyarakat, (community needs); bahkan mungkin merupakan manifestasi ketiga macam kebutuhan tersebut. Berdasarkan implikasi tersebut, diketahui bahwa kesadaran akan kebutuhan pendidikan, baik pendidikan sekolah maupun pendidikan luar sekolah merupakan suatu upaya belajar. Ini bahwa keinginan individu untuk belajar menekuni suatu pengetahuan dan keterampilan diistilahkan oleh Sudjana sebagai “kebutuhan belajar”.

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar