Selasa, 29 Mei 2012

ILMU PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH (PLS)

Definisi pendidikan luar sekolah (PLS)

1. Komunikasi Pembaruan Nasional Pendidikan
Pendidikan luar sekolah adalah setiap kesempatan dimana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah di luar sekolah dan seseorang memperoleh informasi, pengetahuan, latihan maupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan kehidupan, dengan tujuan mengembangkan tingkat keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang memungkinkan baginya menjadi peserta-peserta yang efisien dan efektif dalam lingkungan keluarga, pekerjaan bahkan lingkungan masyarakat dan negaranya.

2. PHILLIPS H. COMBS, mengungkapkan bahwa pendidikan luar sekolah adalah setiap kegiatan pendidikan yang terorganisir yang diselenggarakan di luar sistem formal, baik tersendiri maupun merupakan bagian dari suatu kegiatan yang luas, yang dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu dalam rangka mencapai tujuan-tujuan belajar.

Dasar pendidikan luar sekolah (PLS)

1.Sejarah terbentuknya pendidikan luar sekolah (PLS)

Alasan terselenggaranya PLS dari segi kesejarahan, tidak bisa lepas dari lima aspek yaitu:

a. Aspek pelestarian budaya
Pendidikan yang pertama dan utama adalah pendidikan yang terjadi dan berlangsung di lingkungan keluarga dimana (melalui berbagai perintah, tindakan dan perkataan) ayah dan ibunya bertindak sebagai pendidik. Dengan demikian pendidikan luar sekolah pada permulaan kehadirannya sangat dipengaruhi oleh pendidikan atau kegiatan yang berlangsung di dalam keluarga. Di dalam keluarga terjadi interaksi antara orang tua dengan anak, atau antar anak dengan anak. Pola-pola transmisi pengetahuan, keterampilan, sikap, nilai dan kebiasaan melalui asuhan, suruhan, larangan dan pembimbingan. Pada dasarnya semua bentuk kegiatan ini menjadi akar untuk tumbuhnya perbuatan mendidik. Semua bentuk kegiatan yang berlangsung di lingkungan keluarga dilakukan untuk melestarikan dan mewariskan kebudayaan secara turun temurun. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memenuhi kebutuhan praktis di masyarakat dan untuk meneruskan warisan budaya yang meliputi kemampuan, cara kerja dan Teknologi yang dimiliki oleh masyarakat dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Jadi dalam keluarga pun sebenarnya telah terjadi proses-proses pendidikan, walaupun sistem yang berlaku berbeda dengan sistem pendidikan sekolah. Kegiatan belajar-membelajarkan yang asli inilah yang termasuk ke dalam kategori pendidikan tradisional yang kemudian menjadi pendidikan luar sekolah.

b. Aspek teoritis
Salah satu dasar pijakan teoritis keberadaan PLS adalah teori yang diketengahkan Philip H. Cooms (1973:10), tidak satupun lembaga pendidikan: formal, informal maupun nonformal yang mampu secara sendiri-sendiri memenuhi semua kebutuhan belajar minimum yang esensial. Atas dasar teori di atas dapat dikemukakan bahwa, keberadaan pendidikan tidak hanya penting bagi segelintir masyarakat tapi mutlak diperlukan keberadaannya bagi masyarakat lemah (yang tidak mampu memasukan anak-anaknya ke lembaga pendidikan sekolah) dalam upaya pemerataan kesempatan belajar, meningkatkan kualitas hasil belajar dan mencapai tujuan pembelajaran yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Uraian di atas cukup untuk dijadikan gambaran bahwa PLS merupakan lembaga pendidikan yang berorientasi kepada bagaimana menempatkan kedudukan, harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang memiliki kemauan, harapan, cita-cita dan akal pikiran.

c. Dasar pijakan
Ada tiga dasar pijakan bagi PLS sehingga memperoleh legitimasi dan berkembang di tengah-tengah masyarakat yaitu: UUD 1945, Undang-Undang RI Nomor 2 tahun 1989 dan peraturan pemerintah RI No.73 tahun1991tentang pendidikan luar sekolah. Melalui ketiga dasar di atas dapat dikemukakan bahwa, PLS adalah kumpulan individu yang menghimpun dari dalam kelompok dan memiliki ikatan satu sama lain untuk mengikuti program pendidikan yang diselenggarkan di luar sekolah dalam rangka mencapai tujuan belajar. Adapun bentuk-bentuk satuan PLS., sebagaimana diundangkan di dalam UUSPN tahun 1989 pasal 9:3 meliputi: pendidikan keluarga, kelompok belajar, kursus dan satuan pendidikan sejenis. Satuan PLS sejenis dapat dibentuk kelompok bermain, penitipan anak, padepokan persilatan dan pondok pesantren tradisional.

d. Aspek kebutuhan terhadap pendidikan
Kesadaran masyarakat terhadap pendidikan tidak hanya pada masyarakat daerah perkotaan, melainkan masyarakat daerah pedesaan juga semakin meluas. Kesadaran ini timbul terutama karena perkembangan ekonomi, kemajuan iptek dan perkembangan politik. Kesadaran juga tumbuh pada seseorang yang merasa tertekan akibat kebodohan, keterbelakangan atau kekalahan dari kompetisi pergaulan dunia yang menghendaki suatu keterampilan dan keahlian tertentu. Atas dasar kesadaran dan kebutuhan inilah sehingga terwujudlah bentuk-bentuk kegiatan kependidikan baik yang bersifat persekolahan ataupun di luar persekolahan.

e. Keterbatasan lembaga pendidikan sekolah
Lembaga pendidikan sekolah yang jumlahnya semakin banyak bersifat formal atau resmi yang dibatasi oleh ruang dan waktu serta kurikulum yang baku dan kaku serta berbagai keterbatasan lainnya. Sehingga tidak semua lembaga pendidikan sekolah yang ada di daerah terpencilpun yang mampu memenuhi semua harapan masyarakat setempat, apalagi memenuhi semua harapan masyarakat daerah lain. Akibat dari kekurangan atau keterbatasan itulah yang memungkinkan suatu kegiatan kependidikan yang bersifat informal atau nonformal diselenggarakan, sehingga melalui kedua bentuk pendidikan itu kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.

2. Perkembangan pendidikan luar sekolah (PLS)

Dibagi dalam tiga periode:
1.Periode Pra kemerdekaan
2.Periode Revolusi
3.Periode Orde Baru

3. Sistem pendidikan luar sekolah (PLS)

PLS adalah sub sistem pendidikan nasional, yaitu suatu sistem yang memiliki tujuan jangka pendek dan tujuan khusus yakni memenuhi kebutuhan belajar tertentu yang fungsional bagi masa sekarang dan masa depan. Komponen atau sub sistem yang ada pada sistem PLS adalah masukan saran (instrumen input), masukan mentah (raw input), masukan lingkungan (environmental input), proses (process), keluaran (out put) dan masukan lain (other input) dan Pengaruh (impact).

 4.Program pendidikan luar sekolah (PLS)

Jenis-jenis pendidikan yang ada pada PLS, menurut D. Sudjana (1996:44) di antaranya adalah:

a. Pendidikan Massa (Mass education)
Pendidikan massa yaitu kesempatan pendidikan yang diberikan kepada masyarakat luas dengan tujuan yaitu membantu masyarakat agar mereka memiliki kecakapan dalam hal menulis, membaca dan berhitung serta berpengetahuan umum yang diperlukan dalam upaya peningkatan taraf hidup dan kehidupannya sebagai warga negara. Istilah Mass education menunjukan pada aktifitas pendidikan di masyarakat yang sasarannya kepada individu-individu yang mengalami keterlantaran pendidikan, yaitu individu yang tidak berkesempatan memperoleh pendidikan melalui jalur sekolah, tetapi putus di tengah jalan dan belum sempat terbebas dari kebuta-hurufan. Mass education ini dapat dikatakan semacam program pemberantasan buta huruf atau program keaksaraan, tentu saja tidak bertujuan supaya orang-orang didiknya sekedar bisa baca-tulis, tetapi juga supaya memperoleh pengetahuan umum yang relevan bagi keperluan hidupnya sehari-hari. Individu yang menjadi sasarannya adalah pemuda-pemuda dan orang dewasa. Pelaksanaannya melalui kursus-kursus.

b. Pendidikan Orang Dewasa (Adult Education)
Pendidikan orang dewasa yaitu pendidikan yang disajikan untuk membelajarkan orang dewasa. Dalam salah satu bukunya tentang PLS, Sudjana (1996:45) menerangkan bahwa pendidikan orang dewasa adalah pendidikan yang diperuntukan bagi orang-orang dewasa dalam lingkukangan masyarakatnya, agar mereka dapat mengembangkan kemampuan, memperkaya pengetahuan, meningkatkan kualifikasi teknik dan profesi yang telah dimilikinya, memperoleh cara-cara baru serta merubah sikap dan perilakunya.

c. Pendidikan Perluasan (Extension Education)
Kegiatan yang diselenggarakan PLS adalah meliputi seluruh kegiatan pendidikan baik yang dilaksanakan di luar sistem pendidikan sekolah yang dilembagakan ataupun yang tidak dilembagakan.

Ciri-ciri pendidikan luar sekolah (PLS)

  1. Beberapa bentuk pendidikan luar sekolah yang berbeda ditandai untuk mencapai bermacam-macam tujuan.
  2. Keterbatasan adalah suatu perlombaan antara beberapa PLS yang dipandang sebagai pendidikan formal dari PLS sebagai pelengkap bentuk-bentuk pendidikan formal.
  3. Tanggung jawab penyelenggaraan lembaga pendidikan luar sekolah dibagi oleh pengawasan umum/masyarakat, pengawasan pribadi atau kombinasi keduanya.
  4. Beberapa lembaga pendidikan luar sekolah di disiplinkan secara ketat terhadap waktu pengajaran, Teknologi modern, kelengkapan dan buku-buku bacaan.
  5. Metode pengajaran juga bermacam-macam dari tatap muka atau guru dan kelompok-kelompok belajar sampai penggunaan audio televisi, unit latihan keliling, demonstrasi, kursus-kursus korespondensi, alat-alat bantu visual.
  6. Penekanan pada penyebaran program teori dan praktek secara relative dari pada PLS.
  7. Tidak seperti pendidikan formal, tingkat sistem PLS terbatas yang diberikan kredensial.
  8. Guru-guru mungkin dilatih secara khusus untuk tugas tertentu atau hanya mempunyai kualifikasi professional dimana tidak termasuk identitas guru.
  9. Pencatatan tentang pemasukan murid, guru dan kredensial pimpinan, kesuksesan latihan, membawa akibat peningkatan produksi ekonomi, peningkatan kesejahteraan dan pendapatan peserta.
  10. Pemantapan bentuk PLS mempunyai dampak pada produksi ekonomi dan perubahan sosial dalam waktu singkat dari pada kasus pendidikan formal sekolah.
  11. Sebagian besar program PLS dilaksanakan oleh remaja dan orang-orang dewasa secara terbatas pada kehidupan dan pekerjaan.
  12. Karena secara digunakan, PLS membuat lengkapnya pembangunan nasional. Peranannya mencakup pengetahuan, keterampilan dan pengaruh pada nilai-nilai program.
  13. Diselengarakan dengan tidak berjenjang, tidak berkesinambungan dan dilaksanakan dalam waktu singkat.
  14. Karena sifatnya itu sehingga tujuan, metode pembelajaran dan materi yang disampaikan selalu berbeda di masing-masing penyelenggara PLS.

Persamaan dan perbedaan pendidikan luar sekolah (PLS)

1.Persamaan

Persamaan antara PLS dengan pendidikan persekolahan dapat diperhatikan dari dua sudut pandang yaitu sudut pandangan masyarakat dan sudut pandangan individu. Dari segi pandangan masyarakat, pendidikan berarti pewaris atau pemindahan nilai-nilai intelek, seni, politik, ekonomi, agama dan lain sebagainya; Sedangkan dari segi pandangan individual, pendidikan berarti pengembangan potensi-potensi manusia (Hasan Langglung, 1980). Persamaan lainnya yaitu fungsi pendidikan adalah untuk pengembangan ilmu pengetahuan, Teknologi dan keterampilan bahwa menyiapkan suatu generasi agar memiliki dan memainkan peranan tertentu dalam masyarakat.
Proses pendidikan selalu melibatkan masyarakat dan semua perangkat kebudayaan sesuai dengan nilai dan falsafah yang dianutnya.

2.Perbedaan Antara Pendidikan Sekolah Dan Luar Sekolah

Secara prinsip, satu-satunya perbedaan antara pendidikan luar sekolah dengan pendidikan sekolah adalah legitimasi atau formalisasi penyelenggaraan pendidikan. Tentang perbedaan penyelenggaraan ini, secara institusional, tercantum pada Undang-Undang RI nomor 2 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 10:2-3. selanjutnya, perbedaan secara operasional, Umberto Sihombing melalui bukunya Pendidikan Luar Sekolah: Manajemen Strategi (2000:40-46) menuliskan secara khusuS dan sistematis tentang perbedaan antara Pendidikan Luar Sekolah dengan Pendidikan Sekolah.
Pendidikan luar sekolah (PLS) sangat berbeda dengan pendidikan sekolah, khususnya jika dilihat dari sepuluh unsur di bawah (lihat tabel).

PERBEDAAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH DAN PENDIDIKAN SEKOLAH

1.Warga belajar
*Rentang usia warga belajar heterogen (10-44 tahun)
*Latar Belakang pendidikan warga belajar heterogen
*Motivasi belajar karena kebutuhan mendesak
*Warga belajar dapat berfungsi sebagai sumber belajar
*Warga belajar lebih Mandiri dalam memilih program yang dibutuhkan
*Penerapan warga belajar berdasarkan sasaran
*Ada yang sudah bekerja baru ikut belajar
*Rentang usia setiap jenjang lebih homogen
*Latar Belakang pendidikan lebih homogen
*Motivasi belajar untuk prestasi jangka panjang
*Siswa bertindak sebagai anak didik
*Siswa tidak dapat memilih program sesuai kebutuhannya
*Penerapan siswa berdasarkan nilai yang diperoleh
*Selesai sampai jenjang tertentu baru mencari pekerjaan

2.Tutor / sumber belajar
*Biasanya disebut tutor
*Pemilihan tutor lebih ditekankan pada segi keterampilan yang dimilikinya
*Bersifat terbuka (siapapun dapat menjadi tutor)
*Bertindak sebagai fasilitator
*Tidak ada perjenjangan karir
*Tidak digaji pemerintah
*Disebut guru
*Ditekankan pada kemampuan akademis
*Bersifat tertutup (latar Belakang akademik)
*Bersifat sebagai nara sumber utama
*Ada jenjang karir
*Digaji pemerintah / swasta

3.Pamong belajar / penyelenggara
*Lebih bersifat sukarela / nobenefit (kecuali untuk program khusus)
*Perseorangan, LSM atau instansi
*Bertindak sebagai fasilitator
*Mendapat gaji
*Diselenggarkan oleh pemerintah atau lembaga / yayasan berbadan hukum
*Bertindak sebagai pengelola

4.Sarana belajar
*Sarana belajar berbentuk variatif (modul, leaflet, booklet, poster, dsb) sesuai dengan kebutuhan belajar
*Materi bahan belajar dikembangkan sesuai program yang dikembangkan
*Sarana belajar/learning kit sangat variatif
*Bahan belajar dapat disusun oleh siapa saja (termasuk warga belajar itu sendiri)
*Memanfaatkan sarana belajar yang ada
*Pengalaman warga belajar dimanfaatkan untuk bahan belajar
*Sarana / learning kit yang dibutuhkan sudah baku
*Materi bahan belajar homogen (berdasarkan kurikulum nasional)
*Jenis bahan belajar kurang variatif (bentuk buku atau modul)
*Bahan belajar disusun oleh para ahli
*Sering berubah-ubah
*Kurang mengakomodasi pengalaman siswa / peserta didik

5.Tempat Belajar
*Memanfaatkan bangunan prasarana yang ada
*Mengoptimalkan sarana yang tersedia
*Dilakukan di gedung sekolah sendiri
*Mengadakan sarana yang dibutuhkan (Sengaja diadakan untuk mendukung proses belajar)

6.Dana
*Swadaya masyarakat/ warga belajar
*Bantuan pemerintah, LSM, badan swasta lainnya
*Pengelolaan dana bersifat terbuka
*Swadaya
*Bantuan pemerintah
*Dibebankan pada negara
*Pengelolaan dana tertutup

7.Ragi belajar
*Pemberian ragi belajar disesuaikan dengan kebutuhan warga belajar
*Pemberian ragi belajar dalam bentuk Ijazah

8.Kelompok belajar
*Jumlah kelompok 10-20 orang
*Pembentukan kelompok berdasarkan minat yang sama (melibatkan warga belajar)
*Ikatan kelompok bersifat informal
*Jumlah kelompok bisanya 30 lebih
*Pembentukan kelas ditentukan oleh penyelenggara
*Ikatan kelompok bersifat formal

9.Program belajar
*Kurikulum disusun berdasarkan kebutuhan pasar
*Kurikulum lebih menekankan kemampuan praktis
*Memungkinkan perubahan kurikulum lebih fleksibel sesuai dengan perubahan keadaan tempat.
*Program belajar boleh tidak berjenjang
*Persyaratan keikutsertaan program belajar relatif terbuka (usia latar Belakang pendidikan, sosial, ekonomi, dsb)
*Program dikembangkan untuk mengatasi masalah riil yang dirasakan mendesak/ jangka pendek
*Penyusunan program melibatkan masyarakat secara partisipatif
*Proses pembelajaran secara kelompok dan mandiri
*Pelaksanaan / waktu belajar fleksibel sesuai kesepakatan
*Penyelesaian program relative singkat
*Memberdayakan potensi sumber setempat
*Sistem evaluasi tidak baku (kecuali program pake A pake B and Kursus)
*Kurikulum disusun di pusat (sentralisasi)
*Lebih menekankan kemampuan teoretis akademis
*Kurikulum lebih bersifat baku (sulit berubah) kurang dinamis tidak adaftif dengan perkembangan
*Perjenjangan bersifat baku
*Persyaratan keikutsertaan program bersifat baku dan berlaku menyeluruh (secara nasional)
*Program dikembangkan untuk menyiapkan peserta untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi
*Program disusun sepenuhnya oleh pemerintah, masyarakat bersifat pasif / pengguna
*Pembelajaran dilakukan secara klasikal
*Waktu belajar sudah pasti
*Penyelesaian program lama
*Penekanan pada penguasaan pengetahuan akademis
*Mengabaikan nara sumber / potensi sekitar
*Sistem evaluasi baku

10.Hasil belajar
*Hasil belajar dapat dijadikan bekal untuk bermatapencaharian
*Hasil belajar berdampak terhadap peningkatan pendapatan masyarakat
*Dapat diterapkan sehari-hari
*Tak mengutamakan ijazah
*Berpotensi untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi
*Hasil belajar untuk jenjang karir di masa datang
*Hasil belajar tidak dapat langsung diterapkan dalam dunia nyata
*Ijazah merupakan hasil akhir

Sasaran pendidikan luar sekolah Dibagi 2 sasaran pokok:

1.Pendidikan luar sekolah untuk pemuda

Sebab-sebab timbulnya:
  1. Banyak anak-anak usia sekolah tidak memperoleh pendidikan sekolah yang cukup, lebih-lebih di negara yang berkembang
  2. Mereka memperoleh pendidikan yang tradisional.
  3. Mereka memperoleh latihan kecakapan khusus melalui pola-pola pergaulan
  4. Mereka dituntut mempelajari norma-norma dan tanggung jawab sebagai sangsi dari masyarakatnya
 Kelompok-kelompok kegiatan pendidikan Luar Sekolah antara lain:
  1. Klub pemuda
  2. Klub-Klub pemuda tani
  3. Kelompok pergaulan
 Pendidikan luar sekolah untuk orang dewasa

*Pendidikan ini timbul oleh karena:
1.Orang-orang dewasa tertarik terhadap profesi kerja.
2.Orang dewasa tertarik terhadap keahlian.

*Dalam rangka memperoleh pendidikan di atas dapat ditempuh melalui:
1.Kursus-kursus pendek.
2.In service-training.
3.Surat-menyurat.

Lebih lanjut, sesuai dengan Rancangan Peraturan Pemerintah maka sasaran PLS dapat meliputi:

Ditinjau dari segi sasaran pelayanan, berupa:
1.Usia pra-sekolah (0-6 tahun)
2.Usia pendidikan dasar (7-12 tahun)
3.Usia pendidikan menengah (13-18 tahun)
4.Usia pendidikan tinggi (19-24 tahun)

Ditinjau dari jenis kelamin
Program ini secara tegas diarahkan pada kaum wanita oleh karena jumlah mereka yang besar dan partisifasinya kurang dalam rangka produktifitas dan efesiensi kerja.

Berdasarkan lingkungan sosial budaya
  1. Masyarakat pedesaan.
  2. Masyarakat perkotaan.
  3. Masyarakat terpencil.
 Berdasarkan kekhususan sasaran Pelajaran
  1. Peserta didik yang dapat digolongkan terlantar, seperti anak yatim piatu.
  2. Peserta didik yang mengalami pengembangan sosial dan emosional seperti anak nakal, korban narkotika dan wanita tuna susila.
  3. Peserta yang mengalami cacat mental dan cacat tubuh seperti tuna netra, tuna rungu, tuna mental.
  4. Peserta didik yang karena berbagai sebab sosial, tidak dapat mengikuti program pendidikan persekolahan.
 Berdasarkan pranata
  1. Pendidikan keluarga.
  2. Pendidikan perluasan wawasan.
  3. Pendidikan keterampilan.
 Berdasarkan sistem pengajaran
  1. Kelompok, organisasi, dan lembaga.
  2. Mekanisme sosial budaya seperti perlombaan dan pertandingan.
  3. Kesenian tradisional, seperti wayang, ludruk, ataupun teknologi modern seperti televisi, radio, film, dan sebagainya.
  4. Prasarana dan sarana seperti balai desa, mesjid, gereja, sekolah dan alat-alat perlengkapan kerja.

 Berdasarkan segi pelembagaan program
  1. Program antar sektoral dan swadaya masyarakat seperti PKK, PKN dan P2WKSS.
  2. Koordinasi perencanaan desa atau pelaksanaan program pembangunan.
  3. Tenaga pengarahan di tingkat pusat, propinsi, kabupaten, kecamatan, dan desa.

MACAM-MACAM MODEL PEMBELAJARAN TERBARU

Macam-Macam Model Pembelajaran Terbaru


 
Pembelajaran merupakan suatu cara dan sebuah proses hubungan timbal balik antara siswa dan guru yang sama-sama aktif melakukan kegiatan. Berikut ini adalah macam-macam model pembelajaran yang terbaru:
# MODEL CERAMAH
Adalah sebuah model pembelajaran dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Model pembelajaran ini bisa dikatakan sebagai model pembelajaran yang paling ekonomis dalam menyampaikan informasi serta paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur
# MODEL DISKUSI
Model pembelajaran diskusi merupakan model pembelajaran yang sangat berkaitan dengan pemecahan masalah. Model pembelajaran ini sering disebut sebagai diskusi kelompok dan resitasi/pelafalan bersama
# MODEL DEMONSTRASI
Adalah model pembelajaran dengan cara memperagakan benda, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan
# MODEL CERAMAH PLUS
Model pembelajaran ceramah plus adalah model pembelajaran yang menggunakan lebih dari satu model, yakni model ceramah yang dikombinasikan dengan model yang lain. Terdapat 3 jenis model pembelajaran ceramah plus, yaitu: model ceramah plus tanya jawab dan tugas, model ceramah plus diskusi dan tugas, dan model ceramah plus demosntrasi dan latihan
# MODEL RESITASI
Model pembelajaran resitasi adalah suatu model pembelajaran yang mengharuskan siswa membuat resume dengan kalimat sendiri
# MODEL EKSPERIMENTAL
Sering juga disebut sebagai model pembelajaran percobaan. Model pembelajaran ini merupakan model pembelajaran dengan metode pemberian kesempatan kepada para peserta didik perorangan atau kelompok untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan. Model pembelajaran ini menggunakan alat tertentu dan dilakukan lebih dari 1x
# MODEL TEILEREN
Merupakan model pembelajaran dengan cara memberikan materi secara bertahap/sebagian-sebagian. Misalnya paragraf per paragraf kemudian dilanjutkan lagi dengan paragraf lainnya yang tentu saja berkaitan dengan masalahnya
# MODEL GLOBAL (GANZE MODEL)
Merupakan suatu model pembelajaran dengan meminta peserta didik membaca keseluruhan materi kemudian membuat resume atau kesimpulan dari apa yang mereka baca

PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

Pendidikan Luar Sekolah


Kita menyadari bahwa SDM kita masih rendah, dan tentunya kita masih punya satu sikap yakni optimis untuk dapat mengangkat SDM tersebut. Salah satu pilar yang tidak mungkin terabaikan adalah melalui pendidikan non formal atau lebih dikenal dengan pendidikan luar sekolah (PLS).

Seperti kita ketahui, bahwa rendahnya SDM kita tidak terlepas dari rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, terutama pada usia sekolah. Rendahnya kualitas SDM tersebut disebabkan oleh banyak hal, misalnya ketidakmampuan anak usia sekolah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sebagai akibat dari kemiskinan yang melilit kehidupan keluarga, atau bisa saja disebabkan oleh oleh angka putus sekolah, hal yang sama disebabkan oleh factor ekonomi

Oleh sebab itu, perlu menjadi perhatian pemerintah melalui semangat otonomi daerah adalah mengerakan program pendidikan non formal tersebut, karena UU Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional secara lugas dan tegas menyebutkan bahwa pendidikan non formal akan terus ditumbuhkembangkan dalam kerangka mewujudkan pendidikan berbasis masyarakat, dan pemerintah ikut bertanggungjawab kelangsungan pendidikan non formal sebagai upaya untuk menuntaskan wajib belajar 9 tahun.

Dalam kerangka perluasan dan pemerataan PLS, secara bertahap dan bergukir akan terus ditingkatkan jangkauan pelayanan serta peran serta masyarakat dan pemerintah daerah untuk menggali dan memanfaatkan seluruh potensi masyarakat untuk mendukung penyelenggaraan PLS, maka Rencana Strategis baik untuk tingkat propinsi maupun kabupaten kota, adalah :
  1. Perluasan pemerataan dan jangkauan pendidikan anak usia dini;
  2. Peningkatan pemerataan, jangkauan dan kualitas pelayanan Kejar Paket A setara SD dan B setara SLTP;
  3. Penuntasan buta aksara melalui program Keaksaraan Fungsional;
  4. Perluasan, pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan perempuan (PKUP), Program Pendidikan Orang tua (Parenting);
  5. Perluasan, pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan berkelanjutan melalui program pembinaan kursus, kelompok belajar usaha, magang, beasiswa/kursus; dan
  6. Memperkuat dan memandirikan PKBM yang telah melembaga saat ini di berbagai daerah di Riau.
Dalam kaitan dengan upaya peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan, maka program PLS lebih berorientasi pada kebutuhan pasar, tanpa mengesampingkan aspek akademis. Oleh sebab itu Program PLS mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, profesionalitas, produktivitas, dan daya saing dalam merebut peluang pasar dan peluang usaha, maka yang perlu disusun Rencana strategis adalah :
  1. Meningkatkan mutu tenaga kependidikan PLS;
  2. Meningkatkan mutu sarana dan prasarana dapat memperluas pelayanan PLS, dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil;
  3. Meningkatkan pelaksanaan program kendali mutu melalui penetapan standard kompetensi, standard kurikulum untuk kursus;
  4. Meningkatkan kemitraan dengan pihak berkepentingan (stakholder) seperti Dudi, asosiasi profesi, lembaga diklat; serta
  5. Melaksanakan penelitian kesesuain program PLS dengan kebutuhan masyarakat dan pasar. Demikian pula kaitan dengan peningkatan kualitas manajemen pendidikan.
Strategi PLS dalam rangka era otonomi daerah, maka rencana strategi yang dilakukan adalah :
  1. Meningkatkan peranserta masyarakat dan pemerintah daerah;
  2. Pembinaan kelembagaan PLS;
  3. Pemanfaatan/pemberdayaan sumber-sumber potensi masyarakat;
  4. Mengembangkan sistem komunikasi dan informasi di bidang PLS;
  5. Meningkatkan fasilitas di bidang PLS
Semangat Otonomi Daerah PLS memusatkan perhatiannya pada usaha pembelajaran di bidang keterampilan lokal, baik secara sendiri maupun terintegrasi. Diharapkan mereka mampu mengoptimalkan apa yang sudah mereka miliki, sehingga dapat bekerja lebih produktif dan efisien, selanjutnya tidak menutup kemungkinan mereka dapat membuka peluang kerja.

Pendidikan Luar Sekolah menggunakan pembelajaran bermakna, artinya lebih berorientasi dengan pasar, dan hasil pembelajaran dapat dirasakan langsung manfaatnya, baik oleh masyarakat maupun peserta didik itu sendiri..

Di dalam pengembangan Pendidikan Luar Sekolah, yang perlu menjadi perhatian bahwa, dalam usaha memberdayakan masyarakat kiranya dapat membaca dan merebut peluang dari otonomi daerah, pendidikan luar sekolah pada era otonomi daerah sebenarnya diberi kesempatan untuk berbuat, karena mustahil peningkatan dan pemberdayaan masyarakat menjadi beban pendidikan formal saja, akan tetapi pendidikan formal juga memiliki tanggungjawab yang sama. .

Oleh sebab itu sasaran Pendidikan Luar Sekolah lebih memusatkan pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan berkelanjutan, dan perempuan.

Selanjutnya Pendidikan Luar Sekolah harus mampu membentuk SDM berdaya saing tinggi, dan sangat ditentukan oleh SDM muda (dini), dan tepatlah Pendidikan Luar sekolah sebagai alternative di dalam peningkatan SDM ke depan.

PLS menjadi tanggungjawab masyarakat dan pemerintah sejalan dengan Pendidikan Berbasis Masyarakat, penyelenggaraan PLS lebih memberdayakan masyarakat sebagai perencana, pelaksanaan serta pengendali, PLS perlu mempertahankan falsafah lebih baik mendengar dari pada didengar, Pemerintah daerah propinsi, kabupaten dan kota secara terus menerus memberi perhatian terhadap PLS sebagai upaya peningkatan SDM, dan PLS sebagai salah satu solusi terhadap permasalahan masyarakat, terutama anak usia sekolah yang tidak mampu melanjutkan pendidikan, dan anak usia putus sekolah..Semoga.

BERSAMA MEMBANGUN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH JAYA

Bersama Membangun Pendidikan Luar Sekolah JAYA

logo warna Bersama Membangun Pendidikan Luar Sekolah JAYA  

Bersama Membangun PLS JAYA !!! Pendidikan Luar Sekolah itulah nama program studi ku.. Sampai saat ini pun sebenarnya saya belum tahu benar apa yang dimaksud dengan Pendidikan Luar Sekolah itu sendiri,. Banyak yang mengistilahkan PLS sebagai Pendidikan Luas Sekali, Pendidikan Lucu Sekali, benar juga ada istilah seperti itu, menurut saya pribadi PLS diartikan pendidikan Luas Sekali karena memang pendidikan yang satu ini mencakup banyak unsur di dalam masyarakat kita, apalagi ada istilah pendidikan sepanjang hayat, benar-benar membuat semakin luas sasaran dari PLS itu sendiri, tapi sayangnya PLS masih termarjinalkan dibanding dengan pendidikan formal yang ada saat ini. Padahal kita tahu sendiri, pendidikan luar sekolah atau sering yang disebut dengan pendidikan nonformal ini sangatlah penting bagi kelangsungan hidup seseorang, masyarakat bahkan bangsa dan Negara ini. Bagi kita melihat kondisi pendidikan sekarang ini, apakah kita akan menyerah karena merasa termarjinalkan oleh pemerintah ? Ataukah kita akan bangkit dengan usaha mandiri kreasi mahasiswa PLS di negeri ini ?? Bukan zamannya lagi sebagai mahasiswa PLS hanya kuliah pulang, terima materi dari dosen pengampu kuliah, mengerjakan tugas, dan nunggu nilai keluar. Melihat dan heran dengan kreativitas teman-teman kalian yang berhasil di berbagai ajang kreativitas mahasiswa, bangga dengan jurusan KIMIA, FISIKA atau yang lainnya. Apakah seperti itu mahasiswa PLS yang katanya sebagai generasi penerus bangsa ?? Mau dimana kita ke depannya ??? Apakah kita hanya jadi penonton setia saja melihat perkembangan zaman dan perubahan di negeri kita ini, INDONESIA ¦ Sadar bung !!! 2011 gitu!! Berubahlah kawan, sudah bukan zamannya lagi kita hanya sebagai penonton dan penikmat perubahan saja, berpikirlah rasional, kritis dan kreatiflah hadapi tantangan masa depan kita, masa depan Pendidikan Luar Sekolah. Sudah saatnya kita berubah membawa PLS JAYA, memang kita kalah “tenar  dengan jurusan-jurusan favorit yang ada di berbagai universitas di negeri ini, kalah IQ kita dengan mahasiswa FMIPA, tapi tahukah kalian yang dibutuhkan untuk sukses di dalam kehidupan bukanlah IQ yang tinggi tetapi adalah kreativitas, tahan banting, kemampuan sosialisasi kita dalam masyarakat. Maka dari itu sangatlah perlu bagi kita untuk survive menghadapi tantangan masa depan tersebut, maksimalkan lah peran sebagai mahasiswa PLS saat ini, tunjukan kreativitasmu membawa nama PLS, lakukan dengan HMJ PLS, UKM, maupun organisasi lainnya untuk meningkatkan kreativitasmu, karena sebagai orang PLS kalian sangat dituntut untuk kreatif menghadapi permasalahan di masyarakat. Jangan jadikan Dosen sebagai Guru saja, akan tetapi jadikanlah partner curhat akan kebutuhan yang kalian inginkan untuk hidup di dunia ke-PLS-an. Materi ke-PLS-an yang kalian dapat di kelas, terapkan lah di masyarakat melalui program-program HMJ, tuangkan ide kreatifmu untuk membuat desain program yang benar-benar dapat diterima dengan baik untuk masyarakat sasaran, dengan begitu mahasiswa PLS akan belajar melalui pengalaman yang di dapat dari program yang dilaksanakan tersebut. Dengan begitu, secara pelan namun pasti PLS akan diterima dan dimengerti oleh masyarakat yang membuat lulusan PLS juga akan dipercaya untuk mengisi kebutuhan tenaga ke-PLS-an itu sendiri, yang saat ini sering diisi oleh orang yang bukan di kompetensinya. Untuk itu, sebagai mahasiswa aktif PLS sekarang dituntut untuk kreatif, kritis, inovatif dan survive dalam mengahadapi berbagai tantangan kehidupan kelak, bukan saatnya lagi menunggu panggilan baru bergerak. Butuh keterlibatan berbagai pihak untuk meningkatkan kualitas Pendidikan Luar Sekolah, maka dari itu kita harus pintar-pintar menyiasati dengan menggandeng berbagai pihak seperti pemerintah dan masyarakat agarmengerti akan pentingnya pendidikan luar sekolah serta tidak memandang PLS sebelah mata. #bolehlah kita kalah pikiran dengan orang lain, tapi janganlah sesekali kalah dalam unjuk kreativitas #janganlah terpaku pada sebuah kesempatan, tapi usahakanlah kalian belajar untuk dapat memberikan kesempatan pada orang yang membutuhkan. #Spesial untuk semua mahasiswa PLS se-INDONESIA, saatnya rubah paradigma sebagai “mahasiswa konsumtif 